REFLEKSI MATA KULIAH MATEMATIKA MODEL (PERTEMUAN KE-2)
NIM : 15709259013
Program Pasca
Sarjana Program Studi Pendidikan Matematika P2TK 2015
Refleksi
Perkuliahan Mata Kuliah Matematika Model
Hari/ Tanggal : Kamis, 07 April 2016
Waktu : 14. 00 – 15.30 WIB
Tempat : Ruang 300 Gedung lama Pasca
Sarjana UNY
Herematika
matematika dalam pendidikan matematika itu adalah tatanan kata dari kata
filsafat ilmu. sebenar-benarnya filsafat ketika kita masuk kemata kuliah
herematika. salah satu syarat orang kuliah dulu berguru, syarat orang berguru
itu harus percaya, percaya itu tidak hanya berguru saja, ternyata apapun yang
ada atau yang tidak ada itu harus percaya. jadi segala sesuatu dalam hidup
harus percaya, maka sebetulnya hidup itu percaya.
sebenar-benarnya
filsafat adalah dirimu sendiri, belajar itu konstruk, membangun kepercayaan
membangun keyakinan, ilmu pengetahuan matematika belajar adalah membangun hidup
melalui matematika, membangun cinta yang unik. pengetahuan intuisi itu tidak
melalui definisi, jadi tidak perlu didefinisikan dalam matematika. diluar
filsafat itu adalah filsafat, batasan filsafat tidak ada, kalau ada pun itu
termasuk filsafat yang ada diluar.
Paradigma baru
tidak ada memberi ilmu itu tidak ada kalau masih berpikiran yang namanya
mengajar. memberi ilmu, berarti pikiran anda harus di overload. mengajar adalah
memfasilitasi. ilmu herematika adalah ilmu yang menerterjemahkan
sebenar-benarnya hidup adalah hermetika. hermenitika
hidup mulai dari material, formal, normatif, dan spiritual. Hermenitika kini
muncul kembali sebagai sesuatu yang baru dan menarik, apalagi dengan
berkembangnya ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Sastra sebagai bagian ilmu
humaniora merupakan salah satu bidang yang sangat membutuhkan konsep
hermeneutika ini. Jika dihubungkan
dengan hidup, menurut saya material berkaitan dengan harta benda yang kita
miliki. Formal berkaitan dengan aturan yang ada dalam hidup. melalui dari atas pikiran para dewa, kalau kita sudah tidak bisa
memikirkannya, itu berarti yang maha Kuasa.
Perkuliahan
diawali dengan berdoa, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Mahasiswa
mengajukan pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan dosen pengampu
mata kuliah akan menjawabnya pertanyaan, berikut petikan hasilnya:
Pertanyaan
pertama dari Burhanudin
- Apa sebenarnya cinta sejati itu dan apakah setiap manusia bisa mendapatkanya?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Cinta itu ada dan yang mungkin ada, cinta itu dikotomis disini
atau disana, laki-laki dan perempuan, tinggi atau rendah, jauh dan dekat, di
dalam pikiran dan di luar pikiran. Cinta itu mengikuti kodratnya. Memang ada perbedaan
orang barat dan orang timur dalam memandang makrokosmos cinta, orang barat mengatakan
bahwa cinta ada dalam pikiran, kalau orang timur cinta itu ada di dalam hati
dan perasaan.
Jika ingin mencari atau mendapatkan cinta sejati maka carilah
diantara dirimu dan yang kau cintai, baik sesama manusia dan dzatnya. Imam Gojali
pernah berkata “Kalau kau ingin menemukan cinta-Nya. Jangan hanya kau pikirkan
tapi harus juga kau lakukan, salah satunya dengan ibadah”. Seluruhnya bisa
berangkat dari cinta, semua tentangmu, ibadahmu, aktifitasmu, itu adalah cinta,
hidup adalah cinta.
Dimensi filsafat ada 4, yaitu material, formal, normatif, dan
spiritual maka bisa dianalogikan bangunan cinta itu, materialnya adalah batu cincin,
formalnya adalah sepasang pengantin yang menikah, normatifnya adalah aktifitas
yang romantis dengan berlari larian dan lain sebagainya, dan spiritualnya
adalah arrahman dan arrohim.
Pertanyaan kedua
dari Dwi Hastuti Listiyani
- Salah satu postingan blog Pak Marsigut, ada judul “Elegi percakan belalang dan logos”, kenapa yang digunakan adalah belalang?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Filsafat bisa menggunkan bahasa analog, bahasa ini lebih
tinggi dari bahasa kiasan, dengan bahasa ini kita bisa mengemploy atau
memanfaatlkan karakter, watak, sifat dengan cara mereduksi atau memilih. Mereduksi
adalah teknologinya filsaafat, dengan mereduksi bisa menyederhanakan karakter subjek
atau orang, dimana satu subjek bisa memiliki bermilyar sifat, karakter, dan watak.
Untuk menggambarkan suatu keadaan bisa dengan ikon, yang ada
dan yang mungkin ada juga bisa jadi ikon, termasuk juga belalang yang memiliki
seribu satu ikon termasuk salah satunya adalah memiliki mata yang tidak pernah
berkedip, mata tidak berkedip sebagai tanda tidak pernah berpikir. Sebenar-benarnya
orang yang tidak berpikir itu mitos, Inilah elegi belalang dengan logos yang
menggambarkan diaolog antara orang yang berpikir dan tidak berpikir.
Pertanyaan ketiga
dari Firda Herdiyanti
- Darimana seharusnya belajar matematika?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Matematika itu secara lengkap ada di dalam dirimu, dari yang diketahui
hingga yang tidak diketahui, sudah lengkap dari awal hingga akhir zaman, setiap
orang ada yang bisa, dan ada yang tidak bisa menemukanya karena teerbelenggu atau
terkendala kemampuan mempelajarinya itulah matematika ideal menurut Plato.
Matematika menurut Plato pun ditentang oleh muridnya sendiri
yaitu Aris Toteles, menurut Aris Toteles matematika itu adalah yang bisa
dilihat oleh panca indra, atau dinamakan matematika anak kecil atau matematika
intuisi, tidak memakai definisi tapi mengerti, intuisi adalah mengerti tapi
tidak mengerti dari siapa dan kapan.
Mempelajari matematika dimulai dari pandangan, pendengaran,
perasaan, pergaulan, intreraksi itulah matematika intuisi. Matematika di
sekolah dasar dan sekolah menengah pertama matematika dinamakan activity mathematics, kalau matematika
formal atau matematika murni dinamakan mathematics
is about the of knowledge
Pertanyaan
keempat dari Subhan
- Apakah saat tidur manusia berpikir?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Ilmu dimulai dari kesadaran, kesadaran tentang makna dan
arti, sebenarnya saat tertidur itu mempunyai dimensi dan berhirarki mulai dari
0 sampai 100 persen, dan tiap dimensi memiliki dunianya masing-masing, tidur
berdimensi sekian persen maka dunia kesadaran pun akan sekian persen. Secara
filsafat orang yang berpikir itu awal dari ilmu dengan kesadaran yang berarti di
antara ruang dan waktu. Jika waktu berhenti maka hancur lebur ruang tersebut.
Pertanyaan kelima
dari Asep Tatan Rifai
- Seberapa besar pengaruh filsafat terhadap proses belajar mengajar?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Filsafat itu bukan sesuatu yang gendut menggelembung bergoyang-goyang
yang mempengaruhi pada proses apapun. Karena sebenarnya engkau dan
pengetahuanmu itu tidak ada jarak, pengetahuanmu itulah dirimu. Filsafat itu
adalah dirimu sendiri, maka tidak ada istilah pengaruh pada proses kegiatan
belajar mengajar, makanya sebenar benarnya belajar itu tidak di beri, guru
hanya memfasilitasi dan ilmu itu di cari oleh dirimu sendiri. Sehingga tidak
ada istilah pengaruh, terserah siswa dapat apa, bacaan apa, dari mana saja, dan
tentang apa saja.
Pertanyaan keenam
dari Widi Hastuti
- Apa hakikat hidup?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Hidup dan mati adalah arti dari yang ada dan yang mungkin
ada. Sifat berpikir, merasakan, memegang, melihat, mendengar, mencuium,
mempersepsikan itu bisa dikatakan adanya kehidupan. Karena hidup dan mati adalah
ciptaan Tuhan, maka tergantung kebutuhanya berbicara kepada siapa tentang hidup
dan mati itu, karena hidup dan mati
memiliki persepsisnya sendiri.
Bagi seorang filosof mahasiswa adalah mayat yang berjalan
ketika tidak sedang berpikir, bangkrut itu kematian bagi pengusaha, hidup dan
mati ada dalam hatimu, cintanya mati dan hidup bagi yang sedang kasmaran,
karena hidup adalah kata sifat yang dengan bahasa analog bisa terbang kemana
mana.
Pertanyaan
ketujuh dari Sdyoko Susanto
- Secara filsafat realita itu apa, dan apakah pengetahuan termasuk realita?
Jawaban Prof. Dr.
Marsigit, M.A
Realita itu kenyataan atau realis, kenyataan itu dunia presepsi
atau dunia panca indra, lawan dari realis adalah idealis atau dunia pikiran. Jika
berpikir tanpa beraktifitas maka terancam buta, jika beraktifitas tanpa
berpikir maka terancam kosong, maka sebenar-benarnya manusia adalah berusaha
agar tidak kosong dan tidak buta.
Hidup
dalam realitas adalah prinsip kontradiksi karena terikat oleh ruang dan waktu,
realita beda dengan pikiran, kalau pikiran bisa tidak terikat oleh ruang dan
waktu. Realita itu namanya sintetic, paham setelah dialamai atau idealis namanya
a pestriori. Ideal dapat dicari dari kenyataan dengan dua cara yaitu abstraksi
dan idealisasi.
Pengetahuan ada yang didapat dengan dunia realis dan juga
idealis, ketika pembelajaran siswa dilibatkan pada tiap proses pembelajaran itu
dinamakan melibatkan pengalaman siswa atau realitasnya dan akal pikir siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar