Rabu, 13 April 2016


REFLEKSI MATA KULIAH MATEMATIKA MODEL (PERTEMUAN KE-2)


NAMA :  ABSORIN
NIM     :  15709259013




Program Pasca Sarjana Program Studi Pendidikan Matematika P2TK 2015

Refleksi Perkuliahan Mata Kuliah Matematika Model



Hari/ Tanggal  : Kamis, 07 April 2016

Waktu             : 14. 00 – 15.30 WIB

Tempat            : Ruang 300 Gedung lama Pasca Sarjana UNY





Herematika matematika dalam pendidikan matematika itu adalah tatanan kata dari kata filsafat ilmu. sebenar-benarnya filsafat ketika kita masuk kemata kuliah herematika. salah satu syarat orang kuliah dulu berguru, syarat orang berguru itu harus percaya, percaya itu tidak hanya berguru saja, ternyata apapun yang ada atau yang tidak ada itu harus percaya. jadi segala sesuatu dalam hidup harus percaya, maka sebetulnya hidup itu percaya.

sebenar-benarnya filsafat adalah dirimu sendiri, belajar itu konstruk, membangun kepercayaan membangun keyakinan, ilmu pengetahuan matematika belajar adalah membangun hidup melalui matematika, membangun cinta yang unik. pengetahuan intuisi itu tidak melalui definisi, jadi tidak perlu didefinisikan dalam matematika. diluar filsafat itu adalah filsafat, batasan filsafat tidak ada, kalau ada pun itu termasuk filsafat yang ada diluar.

Paradigma baru tidak ada memberi ilmu itu tidak ada kalau masih berpikiran yang namanya mengajar. memberi ilmu, berarti pikiran anda harus di overload. mengajar adalah memfasilitasi. ilmu herematika adalah ilmu yang menerterjemahkan sebenar-benarnya hidup adalah hermetika. hermenitika hidup mulai dari material, formal, normatif, dan spiritual. Hermenitika kini muncul kembali sebagai sesuatu yang baru dan menarik, apalagi dengan berkembangnya ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Sastra sebagai bagian ilmu humaniora merupakan salah satu bidang yang sangat membutuhkan konsep hermeneutika ini. Jika dihubungkan dengan hidup, menurut saya material berkaitan dengan harta benda yang kita miliki. Formal berkaitan dengan aturan yang ada dalam hidup. melalui dari atas pikiran para dewa, kalau kita sudah tidak bisa memikirkannya, itu berarti yang maha Kuasa.

Perkuliahan diawali dengan berdoa, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Mahasiswa mengajukan pertanyaan yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dan dosen pengampu mata kuliah akan menjawabnya pertanyaan, berikut petikan hasilnya:







Pertanyaan pertama dari Burhanudin

  1. Apa sebenarnya cinta sejati itu dan apakah setiap manusia bisa mendapatkanya?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Cinta itu ada dan yang mungkin ada, cinta itu dikotomis disini atau disana, laki-laki dan perempuan, tinggi atau rendah, jauh dan dekat, di dalam pikiran dan di luar pikiran. Cinta itu mengikuti kodratnya. Memang ada perbedaan orang barat dan orang timur dalam memandang makrokosmos cinta, orang barat mengatakan bahwa cinta ada dalam pikiran, kalau orang timur cinta itu ada di dalam hati dan perasaan.

Jika ingin mencari atau mendapatkan cinta sejati maka carilah diantara dirimu dan yang kau cintai, baik sesama manusia dan dzatnya. Imam Gojali pernah berkata “Kalau kau ingin menemukan cinta-Nya. Jangan hanya kau pikirkan tapi harus juga kau lakukan, salah satunya dengan ibadah”. Seluruhnya bisa berangkat dari cinta, semua tentangmu, ibadahmu, aktifitasmu, itu adalah cinta, hidup adalah cinta.

Dimensi filsafat ada 4, yaitu material, formal, normatif, dan spiritual maka bisa dianalogikan bangunan cinta itu, materialnya adalah batu cincin, formalnya adalah sepasang pengantin yang menikah, normatifnya adalah aktifitas yang romantis dengan berlari larian dan lain sebagainya, dan spiritualnya adalah arrahman dan arrohim.



Pertanyaan kedua dari Dwi Hastuti Listiyani

  1. Salah satu  postingan blog Pak Marsigut, ada judul “Elegi percakan belalang dan logos”, kenapa yang digunakan adalah belalang?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Filsafat bisa menggunkan bahasa analog, bahasa ini lebih tinggi dari bahasa kiasan, dengan bahasa ini kita bisa mengemploy atau memanfaatlkan karakter, watak, sifat dengan cara mereduksi atau memilih. Mereduksi adalah teknologinya filsaafat, dengan mereduksi bisa menyederhanakan karakter subjek atau orang, dimana satu subjek bisa memiliki bermilyar sifat, karakter, dan watak.

Untuk menggambarkan suatu keadaan bisa dengan ikon, yang ada dan yang mungkin ada juga bisa jadi ikon, termasuk juga belalang yang memiliki seribu satu ikon termasuk salah satunya adalah memiliki mata yang tidak pernah berkedip, mata tidak berkedip sebagai tanda tidak pernah berpikir. Sebenar-benarnya orang yang tidak berpikir itu mitos, Inilah elegi belalang dengan logos yang menggambarkan diaolog antara orang yang berpikir dan tidak berpikir.



Pertanyaan ketiga dari Firda Herdiyanti

  1. Darimana seharusnya belajar matematika?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Matematika itu secara lengkap ada di dalam dirimu, dari yang diketahui hingga yang tidak diketahui, sudah lengkap dari awal hingga akhir zaman, setiap orang ada yang bisa, dan ada yang tidak bisa menemukanya karena teerbelenggu atau terkendala kemampuan mempelajarinya itulah matematika ideal menurut Plato.

Matematika menurut Plato pun ditentang oleh muridnya sendiri yaitu Aris Toteles, menurut Aris Toteles matematika itu adalah yang bisa dilihat oleh panca indra, atau dinamakan matematika anak kecil atau matematika intuisi, tidak memakai definisi tapi mengerti, intuisi adalah mengerti tapi tidak mengerti dari siapa dan kapan.

Mempelajari matematika dimulai dari pandangan, pendengaran, perasaan, pergaulan, intreraksi itulah matematika intuisi. Matematika di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama matematika dinamakan activity mathematics, kalau matematika formal atau matematika murni dinamakan mathematics is about the of knowledge



Pertanyaan keempat dari Subhan

  1. Apakah saat tidur manusia berpikir?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Ilmu dimulai dari kesadaran, kesadaran tentang makna dan arti, sebenarnya saat tertidur itu mempunyai dimensi dan berhirarki mulai dari 0 sampai 100 persen, dan tiap dimensi memiliki dunianya masing-masing, tidur berdimensi sekian persen maka dunia kesadaran pun akan sekian persen. Secara filsafat orang yang berpikir itu awal dari ilmu dengan kesadaran yang berarti di antara ruang dan waktu. Jika waktu berhenti maka hancur  lebur ruang tersebut.



Pertanyaan kelima dari Asep Tatan Rifai

  1. Seberapa besar pengaruh filsafat terhadap proses belajar mengajar?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Filsafat itu bukan sesuatu yang gendut menggelembung bergoyang-goyang yang mempengaruhi pada proses apapun. Karena sebenarnya engkau dan pengetahuanmu itu tidak ada jarak, pengetahuanmu itulah dirimu. Filsafat itu adalah dirimu sendiri, maka tidak ada istilah pengaruh pada proses kegiatan belajar mengajar, makanya sebenar benarnya belajar itu tidak di beri, guru hanya memfasilitasi dan ilmu itu di cari oleh dirimu sendiri. Sehingga tidak ada istilah pengaruh, terserah siswa dapat apa, bacaan apa, dari mana saja, dan tentang apa saja.



Pertanyaan keenam dari Widi Hastuti

  1. Apa hakikat hidup?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Hidup dan mati adalah arti dari yang ada dan yang mungkin ada. Sifat berpikir, merasakan, memegang, melihat, mendengar, mencuium, mempersepsikan itu bisa dikatakan adanya kehidupan. Karena hidup dan mati adalah ciptaan Tuhan, maka tergantung kebutuhanya berbicara kepada siapa tentang hidup dan mati itu,  karena hidup dan mati memiliki persepsisnya sendiri.

Bagi seorang filosof mahasiswa adalah mayat yang berjalan ketika tidak sedang berpikir, bangkrut itu kematian bagi pengusaha, hidup dan mati ada dalam hatimu, cintanya mati dan hidup bagi yang sedang kasmaran, karena hidup adalah kata sifat yang dengan bahasa analog bisa terbang kemana mana.



Pertanyaan ketujuh dari Sdyoko Susanto

  1. Secara filsafat realita itu apa, dan apakah pengetahuan termasuk realita?



Jawaban Prof. Dr. Marsigit, M.A

Realita itu kenyataan atau realis, kenyataan itu dunia presepsi atau dunia panca indra, lawan dari realis adalah idealis atau dunia pikiran. Jika berpikir tanpa beraktifitas maka terancam buta, jika beraktifitas tanpa berpikir maka terancam kosong, maka sebenar-benarnya manusia adalah berusaha agar tidak kosong dan tidak buta.

Hidup dalam realitas adalah prinsip kontradiksi karena terikat oleh ruang dan waktu, realita beda dengan pikiran, kalau pikiran bisa tidak terikat oleh ruang dan waktu. Realita itu namanya sintetic, paham setelah dialamai atau idealis namanya a pestriori. Ideal dapat dicari dari kenyataan dengan dua cara yaitu abstraksi dan idealisasi.

Pengetahuan ada yang didapat dengan dunia realis dan juga idealis, ketika pembelajaran siswa dilibatkan pada tiap proses pembelajaran itu dinamakan melibatkan pengalaman siswa atau realitasnya dan akal pikir siswa.